Senin, 18 Juni 2012

RESISTOR TETAP


1. Lambang dan Bangun Resistor

       Dalam rangkaian elektronika, resistor dilambangkan dengan salah satu dari lambang-lambang yang terdapat dalam gambar dibawah ini, yaitu yang ada di sebelah kiri. Resistor terdapat beberapa bentuk, tetapi paling sering berbentuk silinder kecil dengan satu sambungan pada masing-masing ujung. Silinder ini diberi lingkaran warna sebagai kode untuk menunjukan sifatnya seperti berikut. Contoh resistor di perlihatkan dalam gambar dibawah ini, yaitu di sebelah kanan.
2  Sifat Resistor, Definisi Resistivitas
       Pada resistor terdapat hubungan berbanding lurus atau hubungan linier antara voltase dan arus, seperti di perlihatkan dalam gambar dibawah ini yang secara rumus terdapat bentuk :
y = k . x
       Dengan bentuk ini voltase bisa dipilih sebagai variabel y dan arus sebagai variabel x. dalam hal ini konstanta k disebut resistivitas R dan terdapat persamaan sebagai berikut:

V = R . I        ↔       R=  V/I
      Dalam rumus diatas terdapat definisi untuk resistivitas: resistivitas R adalah perbandingan antara voltase dan arus. Persamaan diatas juga disebut “hukum ohmsatuan dari resistivitas adalah ohm, disingkat dengan huruf yunani omega besar, bentuknya: Ω. 1ohm = 1Ω adalah 1   adalah resitivitas yang terdapat kalau voltase besar 1V menghasilkan arus sabesar 1A. Berarti untuk satuan resitivitas terdapat persamaan satuan:
[ R ] =  Ω  =  V / A
       Resistivitas juga disebut dengan tahanan dan besar resistivitas menunjukan berapa kuat suatu komponen ( misalnya resistor) menahan arus. kalau resistivitas besar, berarti daya untuk menahan arus juga besar sehingga arus juga menjadi kecil dan voltase harus besar untuk mendapatkan arus tertentu.
            Selain voltase, arus juga dapat dipilih sebagai variabel y dan voltase sebagai variabel xDalam hal ini terdapat konstanta k yang berbeda . Konstanta k yang didapatkan dalam situasi ini disebut sebagai konduktivitas G, selain resistivitas R, konduktivitas yang dilambangkan G . juga sering dipakai untuk menyatakan hubungan antara arus voltase dengan resistor. G adalah nilai kebalikan dari R . Terdapat rumus sbb:
I = G.V        ↔      G = V      ; G = 1R     
         Konduktivitas G diukur dalam satuan siemens, disingkat dengan huruf  S besar. Kalau resistivitas sebesar 1Ω, maka konduktivitas sebesar 1S. Berarti terdapat persamaan . untuk satuan dari konduktivitas:
[ G ] = S =  v
       Konduktivitas adalah kemampuan untuk mengalirkan arus. Berarti kalau konduktivitas besar, maka pada komponen itu (misalnya resistor) akan besar. Besarnya resistivitas ditulis pada resistor dengan memakai lingkaran berwarna sebagai kode warna. Lingkaran pertama menunjukan angka pertama dan lingkaran kedua menunjukan lingkaran kedua, lingkaran ketiga menunjukan banyak nol harus ditambahkan kepada angka kedua pertama. lingkaran ketiga juga bisa di mengerti sebagai pangkat dari 10 yang merupakan faktor penggali untuk bilangan yang didapatkan dari bilangan yang pertama. misalnya lingkaran pertama menunjukan 2, lingkaran kedua menunjukan 7 dan lingkaran ketiga menunjukan 4, maka resistivitas yang di maksud adalah:


      Hubungan antara warna dan angka yang di maksud di jelaskan dalam tabel 1.6. angka -1 dan -2 hanya dipakai sebagai pangkat dalam lingkaran ketiga, misalnya arti dari warna merah, ungu, emas adalah sbb :

Lingkaran keempat menunjukkan toleransi dari resistivitas tersebut. Untuk toleransi terdapat kode warna seperti pada tabel 1.7Pada resistor dengan toleransi 1% atau 2%, terdapat lima lingkaran warna. Dalam situasi ini cara membacanya sama saja, hanya disini tiga lingkaran pertama di baca sebagai angka, lingkaran ke empat di baca sebagai lingkaran nol yang harus ditambahkan (faktor penggalian) dan lingkaran terakhir merupakan kode untuk toleransi.
Resistor tidak dijual dengan sembarang nilai resistivitas, tetapi nilai resistivitas yang terdapat dipasaran diatur dengan deret-deret norma. Terdapat deret E3, E6, E12, E24, E48, E96. angka pada nama deret menunjukan berapa banyak nilai terdapat dalam satu dekade (misalnya dalam 1Ω  sampai di bawah 10Ω).Dalam dekade berikut terdapat angka yang sama hanya dalam orde yang sepuluh kali lipat. Misalnya dalam norma deret terdapat  nilai 2-2. nilai 2-2 berarti terdapat resistivitas sebesar 0,22Ω, 2,2Ω, 22Ω, 220Ω, 2,2kΩ, dan seterusnya. Berarti terdapat resistivitas pada setiap kelipatan 10. pada tabel 1.8 ditunjukan nilai-nilai yang terdapat dalam deret norma E6, E12 dan E24. 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan komentar kawan - kawan, baik berupa pertanyaan ataupun saran yang sifatnya membangun. komentar kawan - kawan sangat berharga untuk kemajuan blog ini. kalau bisa mohon hindari penggunaan Anonim. Semoga bermanfaat untuk kita semua...
Terimakasih....